Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tak lepas dari pilar utama reformasi pendidikan yang juga menjadi sorotan global. Gerakan Reformasi Pendidikan Global (GERM), yang telah memengaruhi banyak sistem pendidikan di dunia, memiliki karakteristik tertentu yang tercermin pula dalam pengembangan kurikulum di Indonesia, termasuk Kurikulum Merdeka. Memahami pilar-pilar ini akan memberikan gambaran komprehensif tentang arah dan tujuan pendidikan yang tengah diupayakan.
GERM, yang muncul pada era 1980-an, mengusung beberapa pilar utama reformasi pendidikan yang secara fundamental mengubah cara pandang terhadap sistem edukasi. Pertama adalah standarisasi, yang menekankan pentingnya kurikulum dan penilaian yang seragam. Kedua, fokus pada mata pelajaran inti, terutama literasi dan numerasi, sebagai fondasi utama pembelajaran. Ketiga, pendekatan “risiko rendah” terhadap tujuan pendidikan, yang seringkali berarti berfokus pada hasil yang terukur dan mudah diukur. Keempat, adopsi model manajemen korporat dalam pengelolaan pendidikan, yang menekankan efisiensi dan akuntabilitas. Terakhir, akuntabilitas eksternal melalui tes standar, seperti PISA, untuk mengukur kinerja sistem pendidikan secara komparatif.
Di Indonesia, pilar utama reformasi pendidikan ala GERM ini dapat terlihat dalam berbagai kebijakan kurikulum, termasuk Kurikulum 2013 yang sangat menekankan kompetensi dan penilaian standar. PISA (Program for International Student Assessment) sendiri, yang hasil 2022-nya dirilis pada 5 Desember 2023, menjadi salah satu indikator global yang memengaruhi orientasi ini. Meskipun Kurikulum Merdeka hadir dengan semangat yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa, penekanan pada literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar tetap menjadi inti. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk menyesuaikan dengan konteks lokal, ada elemen universal yang tetap menjadi fokus.
Implementasi pilar utama reformasi pendidikan ini dalam Kurikulum Merdeka tercermin dalam pembelajaran berdiferensiasi dan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk beradaptasi dengan kebutuhan belajar siswa yang beragam, sambil tetap memastikan pencapaian kompetensi esensial. Pada 23 April 2025, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengeluarkan panduan yang lebih detail tentang penilaian berbasis proyek, yang menjadi salah satu cara untuk mengukur keterampilan holistik siswa, tidak hanya terbatas pada pengetahuan teoritis.
Dengan demikian, pilar utama reformasi pendidikan yang diusung oleh GERM telah memberikan cetak biru bagi pengembangan sistem pendidikan global dan lokal. Kurikulum Merdeka adalah wujud adaptasi Indonesia terhadap tren ini, dengan tetap berupaya menjaga relevansi lokal dan mengembangkan karakter Pancasila pada generasi muda.